Bagi teman-teman yang mempunyai cita-cita hendak bersekolah ke luar negeri, baik untuk jenjang S1 maupun S2 atau S3, wajib memiliki sertifikasi bahasa asing sesuai negara tujuan studi dan persyaratan dari kampusnya.

Salah satu sertifikasi bahasa asing yang lazim digunakan untuk apply sekolah dan izin bekerja di luar negeri serta diterima hampir di seluruh dunia adalah IELTS (International English Language Testing System). Tes IELTS di Indonesia dapat dilakukan di test center yang ditunjuk yaitu The British Council Indonesia, IDP, atau IALF.

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai IELTS journey saya sampai bisa mendapatkan overall score 7.5. Supaya teman-teman bisa fokus belajarnya dan lebih menghemat waktu serta biaya. Maklum, sekali test teman-teman harus merogoh kocek minimal 2,8 juta Rupiah. Nah, sebelum test, pastikan kita sudah mengantongi strategi belajar yang tepat ya..

Sebelumnya, saya mau pasang disclaimer ah. Pengalaman ini berdasarkan yang saya rasakan sendiri, belum tentu applicable untuk yang lain, barangkali saja ada yang cocok bagi teman-teman.

Jadi mendapat skor 7.5 overall itu bukan sekali tembak yah..makanya saya bilang ada journeynya.. 🙂 dan ini tidak bisa dipisahkan dengan drama yang mengiringinya.

Pertama kali saya coba-coba ikut test ielts adalah di bulan Mei 2017 untuk melaksakan target pribadi di tahun itu. Tak dinyana, setelah cek web pendaftaran LPDP, ternyata untuk pendaftaran 2017 ditutup pada tanggal 7 Juli 2017. Saya pun memberanikan diri mendaftar seminggu sebelumnya untuk tanggal 6 mei 2017. Nekat ya, biasanya daftar test IELTS kan butuh perencanaan matang dan persiapan khusus, sehingga biasanya daftarnya pun minimal 1 bulan sebelum test.

Setelah daftar untuk tanggal tersebut, ternyata ada kabar duka dari rumah di Kudus, Bapak saya terkena stroke dan ibu saya seminggu sebelumnya juga mengalami pendarahan rahim, yang later kami figured out jika itu adalah kanker rahim. Alhasil dengan spirit birrul walidain, akhirnya kami bertiga, saya, suami, dan Keenan memutuskan untuk pulang kudus di hari Jumat tanggal 5 Mei 2017.

Sebelumnya, di hari Jumat pagi saya sudah kontak tim British Council untuk minta transfer Test Date. Kemudian saya diberikan form yang harus diisi denagn reason transfer date-nya dan membayar biaya 450 ribu Rupiah. So, untuk first attempt, saya membayar 3.25 juta Rupiah ya..

Akhirnya tanggal 13 saya test juga. Pertama kali mengikuti test IELTS, rasanya sungguh unik. Untuk percobaan pertama ini bisa dibilang persiapan saya sangat nekat. Bagaimana tidak, saya hanya belajar serabutan di sela-sela jam istirahat dan after office hour berbekal youtube saja. Mau belajar beneran pake buku tapi rasanya kok tidak fokus dan riweuh. Padahal buku IELTS 2 biji sudah dipinjem dari Perpus kantor. Akhirnya saya putuskan H-1 test yaitu hari Jumat ambil cuti saja supaya lebih banyak waktu untuk latihan. Sesampai di rumah, ternyata mau belajar itu tantangannya ada aja. Anak saya minta gendong, minta ditemenin main, dan “menemani dengan caranya sendiri” pas saya lagi latihan di depan laptop. Ya, boleh di bilang bejarnya tidak maksimal.

Bersambung ke Part 2.

My IELTS Journey for 7.5 Overall Score (Part 2)

My IELTS Journey for 7.5 Overall Score (Part 1)
Tagged on:                     

One thought on “My IELTS Journey for 7.5 Overall Score (Part 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *