Terry The Terrorist adalah mobil pertama yang kami beli. Keluaran 2011 Matic.

Ada cerita seru saat Terry akhirnya jadi milik kami. Ceritanya kami dulu membutuhkan kendaraan yang bisa membantu keluarga kecil kami bepergian dengan aman. Mengantar si kecil imunisasi, mengantar mertua, saudara dan keluarga, berbelanja, ngaji, berdakwah, dan kepentingan lainnya.

Kami sudah browsing-browsing di laman online untuk menentukan tipenya. Akhirnya jatuh ke Daihatsu Terios. Hal ini salah satunya terkenang akan amanat Bapak saya, bahwa dalam memilih kendaraan besar hendaknya yang bisa muat banyak orang dan irit. Bapak sangat menyukai Terios, karena kendaraan ini yang dulunya membimbing kami menuju kantor Pertamina Jogja saat seleksi masuk BPS 2010. Ya, Terios hitam itu milik salah satu Manager HR Pertamina yang saat itu menjadi panitia seleksi. Sejak saat itu, Terios selalu menempati ruang khusus di hati kami.

Sebelumnya sempat tergiur dengan Honda Jazz yang merupakan mobil impian sejak jaman kuliah hehehe..namun karena body-nya ceper, kami kuatir kurang klik dengan perawakan suami yang tingginya saja sudah 186 senti sendiri..ya sudah lah kembali ke Terios.

Kami berangkat ke Pasar Mobil Mangga Dua untuk mencari mobil bekas berkualitas. Kami belum mampu beli baru karena saat itu harga baru masih di atas 200 jutaan dan dana kami tentunya belum mencukupi.

Entah kenapa pada hari itu, jumlah terios yang sesuai dengan spek kami tidak begitu banyak. Setelah berjalan-jalan mengitari showroom dari bawah ke atas, hanya ada 1 yang masuk kriteria tersebut.

Saat menemukan bakal calon mobil idaman tsb, kami tidak langsung eksekusi namun masih lanjut mencari-cari mobil lain dengan tipe yang sama hingga tiba waktu sholat dhuhur.

Kami memutuskan untuk sholat di mushola bergantian.

Waktu mengantri di toilet untuk mengambil wudhlu, saya berjumpa dengan seorang Bapak berusia sekitar 58 tahun. Ketika saya tanyakan di mana toiletnya, Bapak itu menunjukkan dnegan ramah dan mengantar saya.

Tak dinyana, Bapak tsb ternyata adalah pemilik lapak mobil terios yang kami incar. Kami menganggap ini adalah pertanda bahwa Terios ini adalah rejeki kami. Kami merasa dipertemukan dan dimudahkan.

Mobil yang kami incar kondisi sangat baik dan memenuhi semua persyaratan, proses nego harga juga tidak berlangsung lama. Kami ngobrol lama sekali menceritakan kejadian yang seharian kami alami.

Experience dengan Terry

Entah kenapa ya, saya menikmati perasaan ketika harus berkejar-kejaran dan salip menyalip dengan kendaraan lain di jalan tol. Bermain manuver di tikungan dan jalan sempit juga merupakan tantangan yang menarik buat saya. Belum saat parkir di mall ataupun di area perumahan atau lainnya. Itu juga PR yang menarik.

Saya menikmati berkendara dengan suami, karena saat itulah kita sering berdiskusi akan berbagai hal dengan santai. Meskipun suami suka cerewet jika manuver saya kurang sempurna, tetapi saya menikmati momen-momen bersamanya.

Ketika suami yang mengemudi, saya harus banyak-banyak beristighfar. Bukan karena cara nyetirnya yang ugal-ugalan, sungguh bukan, karena sejatinya cara menyetir suami sangat lembut, seamless, dan presisi ketika parkir. Dalam dunianya, kegagalan saya dalam parkir paralel maupun seri dalam sekali jadi adalah aib alias kandidat bahan bulan-bulanan  sepanjang tahun hehehe..

Jadi, beliau ini sangat sensitif dalam pergaulan di jalan raya. Suami saya bisa menjelma menjadi seorang hulk pada saat ada pengendara yang tidak sesuai aturan. Saat itu saya hanya bisa memberikan nasihat-nasihat alih-alih ikut menyumpahi pelaku kejahiliyahan di jalan raya. Hehehe..

 

Berbagi Rasa dengan Terry The Terrorist
Tagged on:             

2 thoughts on “Berbagi Rasa dengan Terry The Terrorist

  • December 5, 2017 at 1:01 pm
    Permalink

    mau lebih menantang??? coba cari parkir di kantor pusat. wakakaka…

    Reply
    • December 8, 2017 at 11:02 am
      Permalink

      Udah dunk..tapi waktu itu aku berangkatnya pagi, jadi ga masalah.. 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *