Ancora Imparo-Anita

Ancora Imparo berarti “Still, I learn” alias saya masih terus belajar. Mungkin teman-teman pernah melihatnya menjadi motto di lambang Monash University. Frasa ini aslinya adalah milik seniman kenamaan zaman renaissance, Michelangelo. Menurut saya ini paling tepat menggambarkan apa yang saya rasakan saat ini, hubungan spesial saya dengan perusahaan pelat merah bernama Pertamina.

Berkarya di Pertamina sebetulnya tidak pernah terbersit dalam diri selepas lulus dari perguruan tinggi pada tahun 2010. Dulu saya hanya bercita-cita menjadi seseorang yang membawa manfaat sebesar-besarnya bagi sekitar. Saya ingat betul doa dari Bapak Kos saya di Tembalang tatkala saya memberikan sepotong roti sebagai tanda syukur atas terpilihnya saya menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Diponegoro 2009 kala itu. Sebuat kalimat yang terus membekas di benak hingga saat ini.

Mengabdi di BUMN energi terbesar di Indonesia ini, bukanlah hal yang mudah. Bisnis proses yang dimiliki Pertamina amat panjang dari hulu sampai dengan hilir. Dari penempatan pertama hingga saat ini, saya mungkin hanya mendapat experience sekitar 10% hanya dari bidang IT saja. Persentase yang amat kecil dibandingkan dengan ekspektasi saya. Saya berfikir, setidaknya bisa mendapatkan semua exposure yang diperlukan untuk menjadi pembuat keputusan penting di perusahaan.

Secara singkat, berikut adalah timeline selama mengabdi di perusahaan, sebagai gambaran betapa banyak energi yang telah terkuras untuk ikut berkontribusi di dalamnya.

 

Timeline Anita
Timeline Anita

 

Timeline ini menunjukkan journey saya selama berkarya di Pertamina, khususnya di Corporate Shared Service (CSS), departemen IT-nya Pertamina. Di jaman yang serba volatile, uncertain, complex dan ambiguous (VUCA) saat ini kita harus bekerja secara cerdas dan efektif. Menurut Bob Johansen (Institute of the Future), Obat dari VUCA adalah VUCA itu sendiri yang diterjemahkan sebagai  Vision, Understanding, Clarity, dan Agility. 

Yang pertama adalah Vision. Bertahan di situasi yang kompetitif dan tekanan dari berbagai penjuru, kita harus mampu mendefinisikan dan merawat visi, otherwise kita akan dengan mudah terserang kebosanan, gamang, dan merasa meaningless. Visi saya adalah menjadi problem solver berbasis IT, mendukung digitalisasi perusahaan, dan berperan aktif melakukan perbaikan agar dapat memabntu mewujudkan transformasi CSS dari business enabler menjadi strategic partner bagi organisasi.

Understanding, adalah peka terhadap kebutuhan perusahaan. Pada tahun 2017, CSS menetapkan 8 Program Prioritas Startegis yang salah satunya adalah Big Data Management. Big Data Management tidak akan berjalan semestinya tanpa bantuan dari sosok yang disebut Data Scientist. Data Scientist sendiri adalah seseorang yang mengusai ilmu data (Data Science). It includes the knowledge on origin of data, its behavior, and how it benefits us in today’s era.

Menurut Hardvard Business Review, Data Science is the new sexy. Mengapa demikian? Data Science hadir untuk menjawab tantangan terbesar dari implementasi sistem manajemen basis data  yang telah dimulai sejak tahun 1960 yang semakin berkembang dari segi teknologi sistem manajemen basis data, volume, struktur, relasi, dan bentuk data itu sendiri. Saat ini, jumlah data scientist masih terbilang sedikit, dan implementasinya pun di Indonesia masih terbatas.

Sementara itu, data yang sangat besar ini (big data) harus diolah sehingga menjadi informasi yang bermanfaat dan mampu menjadi Strategic Decision Support System bagi organisasi. Data Science merupakan kunci dalam mengurai, mengelompokkan, membersihkan, dan mensimplifikasi data ke dalam format yang standar, seragam, dan mudah dipergunakan untuk berbagai kepentingan bisnis.

Clarity, adalah menetapkan sasaran yang jelas. Membuat timeline dan rencana pengabdian di Pertamina adalah salah satu ikhtiar yang saya buat. Saya percaya dengan kita membagi visi dan apirasi, semesta akan membantu meraih apa yang kita cita-citakan. Sebab itu saya tak ragu membagi salah satu mimpi saya ini. Itulah sebabnya, saya bertekad melanjutkan kontribusi dengan cara kembali ke bangku kuliah dan mengambil jurusan Data Science.

Agility artinya bersifat fleksible, dinamis, dan mengembangkan kolaborasi. Tidak bisa di era sekarang ini kita bekerja secara sendirian. Meningkatkan knowledge dan menjaring networking adalah keharusan dan modal dalam menghadapi tantangan.

Untuk itu, dalam rangka merawat mimpi di Pertamina, merespon era VUCA dengan VUCA prime, anak panah di gambar timeline di atas insya Allah adalah : Memulai perkuliahan di Program Study Expert Master of Data Science pada tahun 2018. Jika tidak ada aral melintang, kampus bermotto “Ancora Imparo” di negeri kanguru akan menjadi tambatan hati saya untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Doakan ya teman-teman.. Semoga niat baik ini menghasilkan karya yang baik pula dan bermanfaat bagi semua. Aamiinn.

 

 

Jakarta, 30 November 2017.

-Sendirian di kantor sambil memonitor kiriman Data Realisasi alokasi Joint Cost dari PIC Anggaran CSS se-Indonesia Raya-

Merawat Mimpi dengan Ancora Imparo di Era VUCA
Tagged on:                                     

2 thoughts on “Merawat Mimpi dengan Ancora Imparo di Era VUCA

  • December 6, 2017 at 11:18 am
    Permalink

    Semoga sukses mewujudkan cita2nya mbak. Aamiin.

    Reply
    • December 8, 2017 at 11:01 am
      Permalink

      Aamiinn..terima kasih Pak.. 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *