Berawal dari wifehood talks antara saya dan sahabat saya tentang bagaimana mengatasi potensi konflik yang timbul dalam kehidupan berumah tangga, agar bahtera rumah tangga tetap berlayar ke tujuan yang benar walau badai menerpa. Kisah ini bermanfaat baik bagi keluarga muda yang baru menikah setahun dua tahun, atau yang sudah bertahun-tahun lamanya. Baik yang bermula dari pacaran bertahun-tahun maupun yang melalui taaruf syar’iy sesuai tuntunan agama.

Sebuah rumah tangga terdiri dari suami dan istri yang tentunya memiliki kepribadian dan latar belakang yang berbeda. Baik latar pendidikan pendidikan, keluarga, pengalaman hidup, dan lainnya. Sekiranya baik suami mapun istri tidak dapat menyikapi perbedaan tersebut, maka rumah tangga bisa jadi terasa menyiksa, jauh dari sakinah apalagi mawaddah.

Kisah ini adalah kisah nyata yang dituturkan oleh sahabat saya. Untuk diambil ibrah berharga.

Tersebutlah seorang wanita yang shalihah, sebut saja Mirna (bukan teman Jessica yang itu) yang top markotop dari segi ilmu agama maupun kepribadian dan akhlaqnya. Parasnya pun cantik jua. Pada suatu waktu sampailah ia pada usia yang mewajarkannya untuk segera memiliki pendamping hidup yang akan menemaninya dalam berdakwah.

Untuk mencari pendamping hidup, ia percayakan kepada gurunya untuk mencarikan calon. Sang guru pun memilihkannya dan Mirna tak berani menolak. Singkat cerita, akhirnya keduanya menikah, sang ustadzah dan suaminya.

Setelah melalui beberapa hari pernikahan, sang istri baru mengetahui sejumlah kepribadian sang suami yang sungguh amat berbeda dengan kepribadian dirinya. Sang istri adalah wanita shalihah yang sangat baik ilmu agamanya, ia bahkan pernah mengenyam pendidikan di Madinah. Dan ketika menikah ia dapati suaminya ternyata pengetahuan agamanya sungguh amat jauh dari standar. Meski demikian, ia tetap berkhidmat dan menghormati suaminya.

Sang suami tidak begitu memahami mengenai hadits. Sholat masih tidak tepat waktu. Bahkan shalat sunnah rawatib pun tidak tahu, apalagi tahajjud. Mengetahui hal tersebut, terkadang sang istri berpikir dalam hati, “Ya Tuhan, sungguh kenyataan ini menggelitik hamba, apakah yang Engkau kehendaki dari hamba melalui peristiwa ini, dengan kehadiran beliau dalam hidup hamba?”. Ia kadang menangis sendirian sambil bertanya-tanya, apakah barangkali di masa lampau ada kesalahan dari dirinya terhadap orang lain yang belum dimaafkan, atau ada hutang yang belum terbayarkan?

“Bukankah orang yang baik hanya untuk orang yang baik?”, tanya hatinya.

Meskipun diserang kegalauan demikian, tak pernah terucap dari lisannya, atau bahkan dalam hatinya keinginan berpisah (cerai) dari suaminya.

Dengan galau menggurita, akhirnya sang istri memberanikan diri meminta nasihat dari gurunya. Sang guru mengerti apa yang dirasakan oleh ustadzah Mirna, dan mencoba mengobati kegalauannya dengan nasihat yang menyejukkan hati,

“Mirna yang shalihah, sungguh semua orang di sini mengetahui betapa baik ilmu agamamu, akhlakmu. Mengenai perihal suamimu yang telah engkau terima dengan ikhlas mendampingi hidupmu, aku pun telah beristikharah dan berdoa untuk dipilihkan yang terbaik untukmu. Dan jawaban yang keluar adalah Rayhan, suamimu sekarang.”

Sang guru melanjutkan,

“Mungkin engkau bertanya-tanya, alasan apa yang membawa suamimu hingga terpilih mendampingi dirimu. Yang aku tahu, ia memiliki kepribadian yang baik, walaupun secara ilmu agama ia masih jauh di bawahmu. Tetapi ingatlah ia adalah orang yang takut kepada Allah. Ia juga tetap menjalankan sholat fardhu. Yah, itu adalah syarat minimal memilih pendamping hidup. Untuk alasan spesifiknya tentu engkau lebih tahu. Karena sesungguhnya pasanganmu adalah apa yang engkau harapkan dari do’amu.”

“Yah, Pasanganmu adalah apa yang engkau harapkan dari do’amu.”

Begitulah jawaban singkat dari gurunya. Ustadzah Mirna tertunduk. Ia coba menyelami apa yang disampaikan gurunya. Ia coba mengingat-ingat apakah pernah mengucap doa tertentu yang mewakili kriteria yang ditunjukkan oleh sang suami. Mungkin doa yang “itu”, tetapi dia merasa lupa-lupa ingat.

Sampai suatu siang, ketika hendak melaksaankan sholat berjamaan dengan suaminya. Ustadzah Mirna telah bersiap dengan mukena dan sajadah lengkap. Telah hampir 30 menit lebih dari iqamah, namun sang suami tak kunjung kembali dari tempatnya berwudhu.

Ustadzah Mirna cemas, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan suaminya. Apakah ia terpeleset di kamar mandi, pingsan, dan tidak sempat meminta tolong?

Berdegup kencang hati Mirna. Ia berjalan tergopoh menuju tempat wudhu. Dan dia terheran-heran begitu sampai.

Ia dapati suaminya tengah menjumput sesuatu dari lantai dan hampir-hampir celana yang dipakainya basah kuyup.

Mirna bertanya, “Sayang, apa yang sedang engkau lakukan? Celanamu basah?”

Sang suami menjawab, “Maafkan aku Dik, waktu aku hendak mengambil air wudhu, aku melihat ada banyak semut yang berjalan di lantai.”

Mirna melihat ke lantai, seperti yang ditunjukkan suaminya. Llu terdengar suaranya melanjutkan,

“Bila kerannya aku buka dan air mengucur, maka semut-semut itu akan tergenang dan terbuang ke selokan..”

“Terus?”, tanya Mirna tak sabar

“Aku tadi nyelametin dulu satu-satu semutnya. Lumayan juga..sampai basah begini..” Jawab suaminya.

*Deg

Jantung Mirna berdegup kencang demi mendengar perkataan sang suami. Antara kebingungan, miris, kasihan kepada orang dicintainya. Bukankah apa yang dilakoni suaminya itu tampak lugu bagi kebanyakan orang? Atau ahal bodoh yang tidak seperlunya dilakukan?

Namun bukan Mirna namanya jika tidak bersabar akan apa yang dihadapinya.

Akhirnya ia teringat nasihat gurunya, tentang kriteria pasangan hidup seseorang.

Setelah membantu suaminya membersihkan diri, dan Shalat berjamaah. Dalam do’anya, tiba tiba ia teringat pernah suatu waktu di masa lampau, berdoa seperti ini:

“Ya Allah, jadikanlah pendamping hidupku adalah orang yang paling menyayangi semua makhlukmu, sehingga layak Engkau jadikan pula kekasihMu.”

Dan kini ia sadari, bahwa Allah SWT telah mengabulkan do’anya. Allah memilihkan suami yang sangat menyanyangi dan berbuat baik kepada semua makhluk, pun terhadap binatang kecil bernama semut.

Ia segera memeluk suaminya, bulir-bulir airmata jatuh dari pelupuk matanya. Melalui kejadian tak terduga tadi, ternyata mengingatkan ia akan doanya saat meminta jodoh.

Demikianlah, pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah:

  1. Bersyukur dan bersabar atas pasangan yang telah kita nikahi.
  2. Cintai segala kelebihan dan kekuranganya.
  3. Jangan buru-buru mengucap kata “cerai” saat sedang bertengkar atau sekadar adu argumen.
  4. Jadikan rumah tangga sebagai rumah untuk pendewasaan diri dan saling membantu serta memahami pasangan.
  5. Asah rasa dan indera serta pandai-pandai mencari hikmah dan ibrah atas segala kejadian.
  6. Jangan lupa terus berdoa agar Allah senantiasa menjadikan keluarga kita sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiinn.

Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa : Suamiku ternyata..
Tagged on:                                             

3 thoughts on “Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa : Suamiku ternyata..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *