FamAlhamdulillah saat ini status saya adalah Bunda dengan 1 putra. Saya bekerja di Jakarta, begitu pula suami saya. Kami berdua sama-sama berkarya di bidang IT. Kalau anak saya? Hehehe, baru 14 bulan usianya per bulan ini.

Saya dan suami seumuran, kami cuma terpaut 3 bulan. Tentunya saya yang lebih muda. Alhamdulillah kami sudah punya rumah sendiri di bilangan Jakarta Selatan. Tiap hari saya dan suami commute dari daerah Lenteng Agung menuju tempat kerja masing-masing. Tempat kerja saya di Jakarta Pusat, kalau suami pindah-pindah. Maklum doi konsultan yang tempat dan waktu kerjanya flexible. Tidak seperti saya, abdi negara yang gedungnya fixed. Kecuali kalau sedang meeting di luar hehehe. Iya, saya adalah Ibu yang bekerja, tetapi bukan Ibu karir..maksudnya bukan menomor satukan karir. Bagi saya Keluarga nomor 1. Kalau di rumah, saya full jadi pengurus rumah tangga. Dan saya menikmatinya, jadi Ibu, Istri, dan karyawati.

Kalau menilik anjuran dalam Islam, tentu posisi terbaik ya jadi Ibu di rumah saja, atau yang bekerja dari rumah. Untuk saya sekarang ini, karena satu dan lain hal, masih harus bekerja, belum menjadi fulltime Mom. Namun, saya bertekad kuat dan meniatkan diri bahwa saya harus jadi ibu yang baik bagi anak-anak saya, dan istri yang sholihah kesayangan suami. Semoga Malaikat Raqib mencatat niat saya dan Allah SWT memampukan saya serta memberikan jalan terbaik untuk keputusan ini.

Dalam keluarga, saya dan suami belajar jadi partner in crime yang baik. Kami telah lewati saat-saat di mana bertengkar, adu argumen, tawa, tangis menjadi hiasan rumah tangga.

Semakin hari saya belajar bahwa saya harus betul-betul memahami posisi saya dalam keluarga. Bahwa dari sayalah peradaban masa deban dibangun melalui anak saya. Bahwa keuangan keluarga harus direncanakan oleh orang yang sudah ditetapkan menurut Qur’an. Bahwa sabar dan sholat betul-betul menjadi penolong di setiap kesempitan. Bahwa menghormati suami dan orang yang lebih tua itu bagian dari akhlaqulkarimah. Bahwa menjadi ibu adalah karunia luar biasa yang meningkatkan rasa cinta saya pada orangtua saya, khususnya Ibu.

Semua itu belum tentu saya sadari jika saya tidak mengambil keputusan untuk berumah tangga. Saya bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menikah di usia 24 tahun, hamil di 26, dan melahirkan anak pertama di 27 tahun. Semuanya sungguh terasa sempurna untuk kami.

Terima kasih Suamiku, Bapak Ibuku, Adikku, dan Kakakku.

Orang-orang terdekatku yang mempengaruhi terbentuknya diriku dan keluargaku.

My Family
Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *