Lanjutan dari postingan ini :

Walhasil, di first attempt, hanya mampu meraih overall score 6.5, dengan writing masih 5.5. Hal ini karena saya belum sempat belajar section writing sebelumnya. Karena beasiswa yang saya tuju hanya mempersyaratkan overall score saja, maka 6.5 masih aman. Namun untuk mendaftar sekolah di Monash University, di mana overall score minimal 6.5 dan tidak boleh ada section yang di bawah 6, maka saya mau tidak mau harus resit IELTS exam-nya.

Lalu saya mendaftar test lagi untuk tanggal 7 Oktober 2017. Saya mulai mempelajari cara menulis essay yang benar. Namun sekali lagi tidak mengacu pada buku IELTS Cambridge maupun Barron. Karena kendala utama saya adalah waktu yang terbatas, maka model belajar saya hanya melalui web. Saya membaca-baca dari HP dan praktek menulis dari IELTS Podcast untuk band 9 writing sample. Latihan menulis ini berguna untuk membiasakan mengenali vocabularies dan grammar yang benar. Hasilnya, sungguh di luar ekspektasi, secara overall malah turun jadi 6.0 di mana writing sudah meningkat ke 6.0, tetapi malah speaking yang turun ke 5.5. Hal ini karena saya kurang prepare untuk speaking nya. Jawaban yang keluar tidak sesuai ekspektasi saya dan tentunya examiner.

Saya jadi berfikir, ada yang salah dengan strategi menyiapkan tes saya selama ini. Setelah saya evaluasi, yang salah adalah sumber bahan belajar saya selama ini dan durasi waktu belajar. Banyak materi yang beredar di internet yang mengklaim bisa menuntun kita mendapatkan skor tinggi. Namun, setelah saya search up, website ieltsliz.com inilah menurut saya yang banyak membantu saya. Web ini diasuh oleh author yang juga merupakan examiner IELTS, sebab itu kontennya lebih teruji dari sumber lainnya.

Yang kedua adalah masalah durasi. Saya menyadari bahwa saya sudah cukup sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor. Waktu luang di rumah juga terbatas. Waktu untuk memegang gadget lebih banyak saat berada di kereta commuter line. Maka saya mengajukan proposal kepada suami untuk pengadaan alat bantu belajar yang bisa digunakan secara mobile. Apalagi kalau bukan tablet 8 inci dan headphone portable.

Pertama mendengar usulan itu, suami saya menolak mentah-mentah. Karena harga tabletnya sudah 3.8 juta sendiri yang notabene lebih mahal dari test IELTS nya. Tetapi saya terus meyakinkan suami bahwa saya punya metode belajar tersendiri dan hendak memanfaatkan waktu yang saya punya untuk belajar di manapun berada.

Berbekal keyakinan yang kuat, saya pun akhirnya melesat ke Atrium Senen untuk menggondol 1 buah Samsung Tablet. Dengannya saya gunakan untuk membaca berita dari BBC, Forbes, Harvard Business Review, dan situs berita lainnya, dan tentunya ieltsliz.com. Jika dipersentasekan, metode ini menyumbang 50% effectiveness dan keberhasilan menembus skor writing di atas 6.5.

Saya juga berkonsultasi dengan Manager saya, menceritakan bahwa skor IELTS saya turun beserta kendalanya. Ketika saya mengutarakan niat untuk test lagi, beliau berpesan : “Anita, untuk mendapatkan skor tinggi harus mau meluangkan waktu, bisa di selepas jam kerja atau di rumah, yang artinya kamu harus bisa berkorban untuk mengurangi waktu bercengkrama dengan keluarga”.

Demi mendengar kata-kata tsb, saya jadi agak sedih, namun dalam hati bertekad menuruti nasihat tersebut. Akhirnya saya mendaftar untuk ketiga kalinya di tanggal 11 November 2017.

Sabtu minggu tanggal 4 dan 5 November 2017, saya mengurung diri di rumah, dan meniatkan diri untuk praktek keempat section secara proporsional. Saya sudah mengultimatum suami, anak, dan mertua saya agar tidak mencolek-colek atau mengajak jalan-jalan di 2 hari tersebut. Saya tegaskan kalau saya mau menggauli tablet, laptop dan HP untuk belajar IELTS. Hehehe..mohon maaf ya Ibuk mertuaku sayang yang baik hati, menantumu ini agak keras kali ini hehehe..

Hari jumat tanggal 10 November 2017, saya tetap cuti untuk menyiapkan mental untuk keesokan harinya. Ternyata di hari itu saya merasa masih harus belajar lagi, tetapi baru bisa terealisai malam harinya, karena pagi dan siangnya justru masih mengerjakan pekerjaan kantor hehehe (agile working dunk jadinya). Malamnya sebelum the last run, saya berdoa kepada Allah SWT agar diberikan hasil yang terbaik.

Berlembar-lembar kertas penuh coretan, meja makan jadi saksi ketekunan saya waktu itu. Meskipun anak berlarian dan Ibu mertua memasak di belakang saya, saya tetap kusyuk menulis dan menulis.

Akhirnya, tibalah hari sabtu tanggal 11 November 2017, kali ini lokasinya tidak lagi di the Akmani Hotel Kebon Sirih, melainkan di The Whiz Hotel Tanah Abang. Hotel ini menawarkan suasana yang berbeda dari tempat test sebelumnya. Namun, suasana di dalem ruang testnya jangan ditanya, tetap horor mencekam kalau kata saya sih. Hehehe..

Test pertama saya duduknya paling belakang sendiri karena peserta hasil transfer test date. Rasanya lebih nyaman waktu itu karena tidak terpengaruh peserta sebelah. Tes yang kedua biasa aja, cuma ketika listening, peserta sebelah lebih cepat dan sedikit mempengaruhi saya. Test yang ketiga, sebelah saya seorang bocah SMP pemegang paspor RRC. Hahahahaha…

Sebenarnya tidak perlu tegang dengan ruangan test yang memang sudah diset mencekam dan ketat ya. Yang perlu dipersiapkan adalah strategi menjawab setiap sectionnya. Nah, klo ini tipsnya bisa dipelajari di ieltsliz.com.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan menghabiskan dana yang tidak sedikit, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa saya, melebih ekspektasi malahan.

Listening : 7.0, Reading 7.0, Writing 7.0, dan Speaking 8.0. Alhamdulillahirobbilalamin..saya tidak bisa berhenti bersyukur atas nikmat karunia Allah ini. Skor tersebut mewakili proficiency yang merata pada semua aspek kemampuan yang diuji.

Demikianlah, pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman ini adalah:

  1. Setiap orang punya cara berbeda dalam menyelesaikan masalah
  2. Ikuti hati nurani dan kenali metode belajar yang tepat untuk diri sendiri
  3. Libatkan Allah SWT dalam berbagai hal
  4. Practice Makes Perfect
  5. Persiapan IELTS itu memang butuh pengorbanan waktu dan biaya

Semoga bermanfaat bagi yang sedang mempersiapkan test IELTS. Mengingatkan kembali, bahwa metode ini belum tentu applicable bagi yang lain ya.. 🙂

 

 

My IELTS Journey for 7.5 Overall Score (Part 2)
Tagged on:                             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *